Sepotong Halaman: The Door to Door Bookstore
Haii,
Kembali lagi dengan sepotong halaman dari buku The Door to Door Bookstore karya Carsten Henn, yang akan sangat relateabe untuk kita para pecinta buku. So, let's gooo!
Halaman 19
Kata-kata yang tertulis akan tetap sama. Frau Schafer — kadang-kadang memang tidak ada bentuk ekspresi yang lebih sederhana. Buku cetak adalah sarana terbaik untuk mengabadikan pikiran dari cerita, menjaganya agar tetap segar hingga berabad-abad."
- Tidak akan ada yang bisa menggantikan bagaimana berharganya buku cetak! Perasaan yang tidak akan kamu temui di buku elektronik.
Halaman 23
"Yang penting mereka mulai membaca, bukan apa yang mereka baca."
- Karena membaca selalu masuk daftar hal yang kamu harus lakukan supaya tetap hidup.
Halaman 51
"Aku ini seperti jarum jam. Kau mungkin menganggap jarum jam tidak bahagia karena selalu berputar di tempat yang sama, selalu kembali ke tempatnya memulai, tetapi justru kebalikannya. Jarum jam menghargai kepastian jalan dan tujuannya, jaminan keamanan karena dia tidak mungkin menuju arah yang salah. Sehingga ia akan selalu tepat dan bermanfaat."
- Karena sebaiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya, kan?
Halaman 64
Di dunianya, dia masih percaya bahwa orang kaya tentu baik hati; jika tidak, mereka tidak akan kaya -sebuah sudut pandang yang bisa dipastikan akan berubah seiring berjalannya waktu.
- Yah, sejatinya uang tidak memiliki nilai moral, dan tidak memilik kepada siapa ia datang.
Halaman 67
"Justru buku-buku yang terdekat dihatikulah yang kusumbangkan, agar mereka bisa menghadirkan kebahagiaan ke diri orang lain."
Halaman 84
"Banyak membaca tidak menjadikanmu seorang intelektual, seperti halnya banyak makan tidak menjadikanmu pakar kuliner. Aku ini egois, hanya membaca untuk kesenanganku sendiri, untuk memuaskan kecintaanku pada cerita-cerita bagus, bukan untuk mempelajari sesuatu tentang dunia."
- No comment needed
Halaman 114
"Kalau kau jadi tokoh di dalam buku, kau akan hidup selamanya. Selama ada orang yang masih membaca tentangmu, kau masih hidup."
Halaman 122
"... buku itu membuat kau bahagia dan aku ingin membagikan kebahagiaan itu kepada mereka. Namun, ternyata sebagian besar dari mereka sama sekali tidak membaca buku itu, atau tidak menamatkannya, atau tidak menikmatinya."
- Seperti kata Ranganathan bahwa setiap buku punya pemiliknya masing-masing dan begitupun setiap orang punya preferensi bukunya masing-masing. Semua punya suara dan selera.
Halaman 124
"Aku tidak mau menggurui orang lain. Semua orang bebas memilih buku mereka. Itu adalah perasaan paling luar biasa. Ada begitu banyak hal yang wajib kita lakukan dalam kehidupan kita; paling tidak, kita masih bebas memilih apa yang kita baca."
Halaman 128
"...Menurut saya, tidak ada yang lebih cantik--tolong jangan tertawakan saya--daripada seorang perempuan yang sedang membaca buku: ketika dia terhanyut oleh buku yang dibacanya dan melupakan apapun di sekelilingnya, karena dia sedang sepenuhnya berada di dunia lain...."
- Ohh, indahnya dicintai sedemikian rupa.
Halaman 137
"Kehidupan sering kali seperti itu. Kadang-kadang ada ciuman, dan kadang-kadang ciuman itu berhenti. Satu-satunya perbedaan antara novel yang berakhiran gembira dengan yang berakhiran sedih adalah titik ketika kau berhenti bercerita."
Halaman 160
"...Kau tahu, tidak semua buku cocok untuk semua orang. Tapi, bahkan buku terbodoh pun bisa memantik pemikiran. Sedikit kebodohan tidak membahayakan. Kau hanya perlu memastikan bahwa kebodohan itu tidak akan lepas kendali dan tersebar."
Halaman 168 (yang ini akan panjang dan ini favoritku)
Carl menggolongkan pembaca sebagai kelinci, kura-kura dan ikan. Dia sendiri adalah ikan, yang membiarkan sebuah buku menyeretnya mengikuti arus, dengan laju antara cepat dan santai. Kelinci adalah pembaca cepat, sigap menyikat sebuah buku tetapi dalam waktu singkat telah melupakan apa yang mereka baca beberapa halaman sebelumnya dan terus-menerus membalik halaman ke belakang untuk mengingat-ingat. Kura-kura juga kerap membaca ulang halaman yang telah lewat karena mereka membaca begitu lambat dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menamatkan sebuah buku. Setiap malam, mereka membaca satu halaman, lalu jatuh tertidur. Kadang malam berikutnya mereka membaca halaman yang sama pada malam berikutnya karena mereka ragu-ragu apakah bagian itu telah mereka baca. Setiap binatang itu bisa sewaktu-waktu menjadi burung lapwing yang melompat ke halaman terakhir untuk mengetahui akhir cerita sebelum melanjutkan membaca."
Halaman 170
Bahkan, jika sebuah buku bagus dikhiri di titik yang tepat, jika sebuah kata-kata yang pas, dan cerita yang lebih panjang justru akan merusak kesempurnaannya, pembaca masih akan mendambakan lebih banyak halaman. Itulah paradoks membaca.
Halaman 173
Namun, ketika drama kehidupan terjadi, yang bisa dilakukan adalah lebih mendramatisasi ceritanya agar orang lain terkesan.
- Realitas yang akan kau temui seiring bertambah dewasa.
Aku berhenti menempelkan di halaman 173 walaupun buku berakhir di halaman 301, tidak lain karena setelah halaman 173, masalahnya mulai intens dan aku terlalu terhanyut dalam cerita sehingga tidak sempat lagi untuk menempelkan lagi pembatas.
Menurutku buku ini sangat aku rekomendasikan untuk kalian para pembaca buku, karena ada banyak sekali kalimat yang rasanya relateable atau dekat di hati kita, hahaha :D
Jadi, selamat menikmati buku ini <3


Komentar
Posting Komentar